Friday, May 21, 2010

Mengidentifikasi Kesulitan-Kesulitan Yang Dihadapi Siswa Kelas XI IPA SMA Prasetya Gorontalo Dalam Mempelajari Materi Ikatan Kimia

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek pembangun yang amatlah penting serta merupakan faktor yang sangat vital dalam hubunganya dengan perkembangan dalam sektor lain, seperti politik, ekonomi, sosoial dan budaya.
Pendidikan hendaknya membangun manusia yang merupakan subyek sekaligus obyek dari pembangunan. Dengan kata lain bahwa pendidikan hendaknya membangun manusia yang akan melakasanakan pembangunan bangsa sekaligus manusia yang akan menikamati hasil pembangunan tersebut. Hal ini membawa konsekuensi bahwa manusia yang akan melaksanakan pembangunan perlu membangun diri terlebih dahulu dengan baik yang menyangkut pengetahuanya, sikap, mental serta keterampilan sehingga tercipta manusia berjiwa pembangunan yang berkualitas.

Seiring dengan kemajuaan llmu pengetahuan dan teknologi saat ini yang berdampak langsung terhadap pola-pola kehidupan manusia dari segala sisi, maka seharusnya arah pendidikan harus mengacu kepada tiga komponen utama yaitu ke arah kognetif, afektif dan psikomotorik.
Kearah kognetif berarti pendidikan harus menekankan kepada pemahaman dan penguasaan serta perluasan ilmu pengetahuan. Kearah afektif berarti imu pengetahuan harus mampuh menciptakan manusian yang memiliki sikap yang sesuai dengan arah tujuan pendidikan. Sedangkan kearah psikomotorik berarti ilmu pengetahuan sertidaknya harus ada implementasi dalam bentuk keterampilan-keterampilan yang sesuai dengan bidang studi yang bersangkutan.
Kenyataan ini sangant relevan dengan tujuan dan fungsi pendidikan yang tercantum dalam undang-undang sistem pendidikan nasional. nomor 23 tahun 2003 BAB II pasal 3 tentang Dasar Fungsi Dan Tujuan. "Dikatakan pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang beralak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreaktif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dengan menelaah akan hal itu maka untuk mewujudkan tujuan pendidikan bukanlah mempakan pekerjaan yang mudah, tetapi merupakan suatu pekerjaan yang kompleks dan dimensional. Terkait dengan hal itu maka pelaksanaan pedidikan pada hakekatnya terletak pada pemerintah sebagai pengambil kebijakan, tenaga kependidikan sebagai penyelenggara, dan siswa sebagai peserta didik. Hal ini setidaknya harus berjalan seiring, dan sejalan sehingga proses pendidikan dapat tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peranan guru sangat besar dalam menentukan keberhasilan peserta didik dalam memahami konsep- konsep dan penguasaan ilmu pengetahuan. Sehingga seyogyanya peran aktif guru sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah.
Bertitik tolak dari kenyataan yang masih ditemukan adanya kesenjangan antara guru dan siswa yang dialami oleh Siswa Kelas XI SMA Prasetya Gorontalo terkait dengan materi ikatan kimia, sebagaian besar siswa mengatakan materi ikatan kimia sangat sulit untuk dipelajari. Hal ini menunjukan apakah konsep dan metode pembelajaran yang diberikan oleh guru sulit untuk dipahami ataukah kesalahan terletak siswa yang tidak memperhatikan materi yang diberikan.
Hal ini tentunya akan berdampak terhadap penghambatan proses pendidikan yang berlangsung di SMA yang bersangkutan. Kerena sebagai seorang guru dituntut untuk dapat menyelesaikan materi sesuai dengan waktu yang telah diberikan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sedangkan seorang siswa dituntut untuk memahami konsep-konsep yang telah diberikan dari guru. Hal ini bila berlangsung secara terus menerus akan sangat mempengaruhi hasil pencapaian akhir belajar. Berdasarkan hal ini penulis ingin mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dialami Siswa Kelas XI IPA SMA Prasetya Gorontalo dalam mempelajari ikatan kimia.



1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang pemikiran diatas penuilis mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi Siswa Kelas XI IPA SMA Prasetya Gorontalo terkait dengan materi ikatan kimia adalah sebagai berikut:
1.Siswa Kelas XI IPA SMA Prasetya Gorontalo merasa materi ikatan kimia yang diberikan oleh guru tingkat kesulitanya relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan meteri-materi yang lain.
2.Rendahnya hasil belajar Siswa Kelas XI IPA SMA Prasetya Gorontalo pada materi ikatan kimia.
3.Guru Kelas XI IPA SMA Prasetya Gorontalo mengakui pada saat pemberian materi ikatan kimia siswa tidak serius untuk mempelajarinya.

1.3. Rumusan Masalah
Dari bebertapa permasasalahan yang teridentifikasi diatas, penulis akan merumuskan permasalahan yang akan menjadi fokus penelitian yaitu “Mengidentifikasi Kesulitan-Kesulitan Yang Dihadapi Siswa Kelas XI IPA SMA Prasetya Gorontalo Dalam Mempelajari Materi Ikatan Kimia”

1.4. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa kelas XI IPA SMA Prasetya Gorontalo dalam mempelajari materi ikatan kimia.









1.4. Manfaat Penelitian
Manfat penelitian yang penulis lakukan dalam mengidentifikasi kesulitan-kesulitan siswa SMA Prasetya Kelas XI IPA dalam mempelajari materi ikatan kimia adalah sebagai berikut:
1.Mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa kelas XI IPA SMA Prasetya Gorontalo dalam mempelajari materi ikatan kimia.
2. Sebagai masukan kepada guru kimia kelas XI IPA SMA Prasetya Gorontalo tentang kesulitan-kesulitan siswa SMA Prasetya Kelas XI IPA dalam mempelajari materi ikatan kimia
3. Memberikan sumbangsih pemikiran dalam menyelesaikan persoalan yang menghambat siswa kelas XI IPA SMA Prasetya Gorontalo dalam mempelajari ikatan kimia.



















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pemahaman Konsep dan Keterkaitan Antar Konsep Pada Pembelajaran Kimia di SMA
Pembelajaran kimia di SMA ditekankan pada pemahaman konsep, keterkaitan antar konsep dan aplikasi konsep meskipun materi ilmu kimia tidak hanya terbatas pada konsep-konsep.
Pada dasarnya setiap konsep dalam ilmu kimia tidak berdiri sendiri melainkan suatu konsep saling berkaitan dengan konsep yang lain. Misalnya konsep tentang ikatan kimia melibatkan konsep atom, molekul, elektron valensi, elektron ikatan, keelektronegatifan dan kepolaran ikatan melalui suatu jaringan tertentu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa konsep-konsep merupakan batu-batu pembangun (building blocks) berpikir bagi proses-proses mental yang lebih tinggi iintuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi. Untuk memecahkan masalah, seseorang harus mengetahui aturan-aturan yang relevan dan aturan itu didasarkan pada konsep-konsep yang telah diperolehnya (Dahar, 1988:95). Selanjutnya Sastrawijaya (1988:178) mengemukakan bahwa suatu konsep yang kompleks dalam ilmu kimia hanya dapat dikuasai jika konsep-konsep mendasar yang ikut dalam pembentukan konsep baru telah benar-benar dipahami oleh siswa. Kemampuan siswa dalam memahami keterkaitan antar konsep yang telah dimiliki dengan konsep-konsep yang terdapat dalam pengetahuan baru akan menentukan mudah tidaknya pengetahuan baru dibangun dalam otaknya. Bodner (1986:873) mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran, pengetahuan dibangun atau dikontruksi dalam otak siswa. Komponen dasar dari pengetahuan itu sendiri adalah konsep-konsep. Dengan demikian dapat dianggap bahwa konsep-konsep yang diperoleh siswa dibangun dalam otaknya (stuktur kognitifnya) dengan mengikuti pola keteraturan tertentu.
Dari penjelasan di atas nampak bahwa pengkonstruksian pengetahuan dalam Otak siswa berasal dari keterkaitan antara pengetahuan baru atau perangsang dengan pengetahuan yang telah ada dalam otak siswa sebelumnya. Oleh karena itu dalam mempelajari ilmu kimia pemahaman tentang keterkaitan antar konsep sangat penting dan sangat diperlukan.
Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berkewajiban menyebarluaskannya kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.
Anggapan-anggapan seperti ini, meskipun sudah berusia cukup tua, tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi pendidik memberikan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Gugus pengetahuan yang dikuasai dan disebarluaskan saat ini, secara relatif, mungkin hanya berfungsi untuk saat ini, dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya menjejalkan informasi pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional pendidik untuk menyebarkan informasi pengetahuan harus dipupuskan sama sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi "penengah" di dalam perjumpaan antara subjek didik dengan himpunan informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka.
Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber infonnasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik. Dengan perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitamya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketika subjek didik belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.
Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah bila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik berhasil menemukan dirinya sendiri menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutkan sebagai “learning to be”.
Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
Agar fangsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :11).

a. Faktor Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik juga melakukan gradasi material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.
Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektifdari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang Kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.
Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.
Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.

b. Faktor Psikologis
Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara terpisah. Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan akti vitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.
1. Perhatian
Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besamya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing'), debat dan sebagainya.
Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.
2.Pengamatan
Pengamatan adalah card pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.
Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah diantara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan pstkologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.
Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.
3. Ingatan
Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah "ingatan" selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.
Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.
Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipenganlhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan "titian ingatan" juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama unsur setiap golongan dalam sistem periodik unsur dengan menggunaklan jembatan keledai.
Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhimya sebagion hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.
Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik hams mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terialu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.
Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, hams diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.

Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal mi melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.
4.Berfikir
Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-pemgertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasamya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.
Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang "selengkapnya" tentang satu material pembelajaran akan cendnmg melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.
5.Motif
Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-akti vitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik.
Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam din subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.

Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadimya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau beriomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.
Motif ekstrinsik bisajuga dihadirkan melalui siasat "self competition", yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik-Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemcajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.

2.2 Konsep Ikatan Kimia
Istilah ikatan kimia antara dua atom atau lebih muncul oleh karena bergabungnya atom-atom yang bersangkutan dalam membentuk senyawa. Gagasaa pembentukan ikatan ini umumnya diarahkan pada pembentukan konfigurasi elektronik yang lebih stabil. Sampai dengan saat ini, konfigurasi elektronik atom unsur-unsur gas mulia dianggap sebagai ukuran kestabilan suatu spesies kerena relative terhadap atom unsur-uinsur lain, meskipun akhir-akhir ini telah ditemukan beberapa senyawa gas mulia. Sifar kestabilan kelompok gas mulia tercermin dalam harga energi ionisasinya yang sarigat tinggi, tertinggi dalam periode, dan afinitas elektronnya yang sangat rendah, terendah dalam periodik unsur.
Berbicara tentang ikatan kimia, kita akan mencoba membahas beberapa jenis ikatan kimia yang sering kita jumpai dalam persenyawaan kimia yaitu diantaranya ikatan ionik, dan ikatan kovalen.




1.Ikatan Ionik
Ikatan ionik adalah gaya tarik menarik antara ion-ion yang berlawanan muatan (Keenan, 1989:671). Pembentukan senyawa ionik didahului dengan pembentukan ion positif (kation) dan ion negatif (anion) melalui perpindahan elektron dari atom-atom yang berikatan, sehingga dihasilkan daya tarik elektrostatik yang relatif kuat sebagai energi ikatnya. Dalam pembentukan senyawa ionik pada umumnya terbentuk dari reaksi antara unsur logam dengan unsur nonlogam yang sangat reaktif. Atom dari unsur logam cenderung melepaskan elektron membentuk ion positif (kation), sedangkan atom dari unsur nonlogam cenderung menerima elektron membentuk ion negatif (anion). Sebagai contoh adalah NaF. Senyawa ini terdapat dalam bentuk pasangan ion Na+F- dalam fasa gas. Atom Na dalam fasa gas (golongan 1) cenderung melepaskan satu elektron membentuk ion Na+ dan atom F dalam fasa gas (golonganb 17) cenderung menerima satu elektron membentuk ion F. Ion Na+ dan F- mengadakan tarik menarik karena adanya gaya elektrostatik sehingga terbentuk pasangan ion Na+F-. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
Na(g) Na+(g) + e
F(g) + e F-(g)
Na (g) + F (g) Na+F- (g)
Ikatan ionik terdapat dalam senyawa yang terbentuk antara:
1. Kation sederhana dan anion sederhana, seperti RC1 dan MgO
• KC1 dibentuk dari ion K+ dan ion Cl-
• MgO dibentuk dari ion Mg2+ dan ion O2-
2. Ration sederhana dan anion poliatomik, seperti KC1O3 dan MgSO4.
• KC1O3 dibentuk dari ion K+ dan ion ClO-
• MgSO4 dibentuk dari ion Mg2+' dan ion S042-
3. Kation poliatomik dan anion sederhana, seperti NH4C1 dan NI^Br
• NH4C1 dibentuk dari ion NH4+ dan ion Cl-
• NH4Br dibentuk dari ion NH4+ dan ion Br-
4. Kation dan anion poliatomik, seperti (NH4)2CO3 dan (NH4)3PO4
• (NH4)2CO3 dibentuk dari ion NH4+ dan ion CO32-
• (NH4)3PO4 dibentuk dari ion NH4+ dan ion P043-
Senyawa logam dengan non logam cenderung bersifat ionik, namun tidak selalau demikian. Jenis ikatan dalam suatu senyawa dapat dikenali dari sifat-sifatnya. Senyawa ion mempunyai sifat-sifat sebagaai berikut:

Mempunyai titik leleh dan titik didih yang relative tinggi. Semua senyawa ion berupa padatan pada suhu kamar. Hal itu menunjuakan bahwa ikatan ion adalah ikatan yang relatifkuat.
Padatantanya tidak menghantar listrik, tetapi lelehanya mempakan konduktor. Hal ini teriadi kerena dalam keadaan cair, ion-ionyan dapat bergerak.
Bersifat rapuh atau getas. Hal itu terjadi karena ikatan ion tidak dapat bergeser, disebabkan pergeseran lapisan akan menghasilkan gaya tolak-menolak listrik antar ion sejenis, sehingga kristal terbelah (pecah).

2.Ikatan Kovalen
Spesies yang tersusun khususnya unsur-unsur non logam seperti H2, 02, N2, H20, HC1 dan CH4 temyata mempunyai sifat yang betlawanan dengan sifat-sifat senyawa ionik. Sifat tersebut misalnya bukan penghantar listrik. Oleh karena itu pembentukan ikatan antara atom-atom penyusaun molekul menurut model tranfer elektron sebagaimana diterapkan untuk molekul ionik tiodak lagi tepat.
Gilbert N. Lewis pada tahun 1916 mengusulkan bahwa elektron valensi suatu ato dapat divisualisasikan seolah-olah menempati titik-titik sudut suatu kubus diseputar intinya. Suatu atom yang kekurangan elektron yang diperlukan untuk menempati kedelapan titik sudut kubus dapat mengadakan "persekutuan" melalui rusuk kubus dengan atom lain untuk melengkapi pemilikan oktet atau duplet. Jadi ikatan kovalen terbentuk oleh penggunaan bersama sepasang elektron antara dua atom. Elektron yang saling digunakan dihasilkan dari penggabungan orbital atom menjadi orbital yang saling digunakan, yang disebut orbital molekul.
Unsur yang tidak mampu melepaskan atau menerima elektron akan melakukan pemakaian bersama satu atau lebih elektron valensinya dengan atom lain. Ikatan yang dibentuk antara atom-atom karena menggunakan bersama pasangan elektronnya disebut ikatan kovalen (Brady, 1999:325). Untuk menggambarkan terjadinya ikatan kovalen digunakan struktur Lewis. Ikatan kovalen dapat dibedakan berdasarkan 3 kriteria, yaitu:
1. Ikatan kovalen tunggal dan rangkap
Berdasarkan jumlah pasangan elektron ikatan terdapat tiga jenis ikatan, yaitu ikatan kovalen tunggal, ikatan kovalen rangkap dua dan ikatan kovalen rangkap tiga.
a. Ikatan kovalen tunggal terjadi karena penggunaaan bersama sepasang elektron oleh dua buah atom.
Contoh: Pembentukann molekul F2. Atom F memiliki konfigurasi elektron 2, 7. jadi atom F memiliki 7 elektron valensi. Pembentukan F2 digambarkan sebagai berikut:
F + F F F atau F F
b. Ikatan kovalen rangkap dua terjadi melalui penggunaan bersama dua pasang elektron oleh dua buah atom.
Contoh: Pembentukan molekul O2. Atom O memiliki konfigurasi elektron 2, 6. jadi atom O memiliki 6 elektron valensi. Pembentukan O2 digambarkan sebagai berikut:
O + O O O atau O=O
c. Ikatan kovalen rangkap tiga terjadi melalui penggunaan bersama tiga pasang elektron oleh dua buah atom
Contoh: Pembentukan molekul N2. Atom N memiliki konfigurasi elektron 2, 5. jadi atom N memiliki 5 elektron valensi. Pembentukan N2 digambarkan sebagai berikut:
N + N N N atau N N

2.Ikatan kovalen koordinasi
Ikatan kovalen yang terbentuk dengan penggunaan bersama sepasang elektron yang berasal dari salah satu atom yang berikatan disebut ikatan kovalen koordinasi. Syarat terjadinya ikatan kovalen koordinasi adalah atom "penyumbang" pasangan elektron harus memiliki pasangan elektron bebas dan atom penerimanya harus memiliki orbital kosong. Pasangan elektron pembentuk ikatan kovalen koordinasi digambarkan dengan anak panah kecil yang arahnya menuju atom yang menerima elektron. Contoh Pembentukan H3O+ melalui reaksi :
H2O + H+ H3O+
2.3 Ikatan kovalen nonpolar dan polar
Berdasarkan adanya perbedaan keelektonegatifan dari atom-atom yang berikatan, ikatan kovalen dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:
a. Ikatan kovalen nonpolar
Ikatan kovalen nonpolar terbentuk dari dua atom nonlogam yang sama. Hal ini disebabkan oleh keelektronegatifan dari kedua atom yang berikatan sama, Dengan demikian pasangan elektron yang dipakai bersama akan terdistribusi secara merata di antara kedua atom yang berikatan. Contohnya adalah ikatan-ikatan yang terdapat pada molekul H2, N2,O2 P4 dan S8.
b. Ikatan kovalen polar
Ikatan kovalen polar terbentuk dari dua atom yang tidak sama. Hal ini disebabkan oleh keelektronegatifan kedua atom berbeda. Dengan demikian pasangan elektron ikatan akan berada lebih dekat ke atom yang lebih elektronegatif. Makin besar perbedaan keelektronegatifannya, pasangan elektron ikatan makin dekat dengan atom yang lebih elektronegatif dan makin jauh dari atom yang lebih elektropositif. Keadaan ini memungkinkan terbentuknya dipol atau dwikutub.
Adanya dua kutub pada suatu ikatan kovalen menunjukkan bahwa ikatan tersebut merupakan ikatan kovalen polar (Peterson dan Treagust, 1989:304). Kedua kutub yang terbentuk pada molekul tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

H F dan H Cl

Ikatan kovalen polar tidak hanya terjadi pada molekul-molekul netral seperti HF dan HC1 namun dapat pula terjadi pada ion poliatomik seperti NH4+ dan CO32- . Pada ion NH4+ pasangan elektron ikatan tertarik lebih kuat ke atom N, dan pada ion CO32- pasangan elektron ikatan tertarik lebih kuat ke atom O.





BAB III
METODE PENELITIAN

1.Rancangan Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguraikan dan mendeskripsikan peristiwa-peristiwa sebagaimana adanya. Rancangan penelitian meliputi tahap-tahap sebagai berikut : (1) Penyusunan Istrumen, (2) Uji Coba Instrumen Dan Revisi, (3) Penentuan Sampel Penelitian, (4) Pengambilan Data Penelitian.

2.Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah sisiwa kelas XI SMA IPA Prasetya gorontalo tahun ajaran 2008/2009 yang berjumlah satu kelas. Populasi tersebut diasumsikan memeiliki kesamaan dalam pelaksanaan pembelajaran ilmu kimia yang berpijak pada kurikulum kimia SMA. Karena di SMA Prasetya Gorontalo jurusan IPA hanya terdapa satu kelas maka keseluruhan siswa SMA kelas XI IPA menjadi sampel penelitian.

4.Intrumen Penelitian
Untuk memperoleh data pada penelitian ini digunakan dua macam instrumen penelitian yaitu berupa tes dan berupa wawancara dengan siswa SMA kelas XI IPA Prasetya gorontalo, tes yang digunakan berupa uraian objektif sebanyak 30 item dengan tiga alternatif jawaban, ditambah alternatif jawaban lain yang dapat diberikan siswa disamping ketiga jawaban yang telah disediakan. Wawancara dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa terhadap soal dan mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapai siswa dalam mengerjakan item-item yang diberikan.
Langkah-langkah penyusunan instrumen terdiri dari tahap perencanaan dan penulisan tes dan tahap uji coba.


5.Verifikasi Instrumen Penelitian

1.Validitas
Validitas adalah ukuran yang digunakan untuk mengetahui kesahihan suatu intrumen. Pengujian validitas untuk penelitian ini didasarkan pada validitas isi (content validity) yang diperoleh dari 1 orang dosen jurusan pendidikan kimia dan 2 orang guru kimia yang dianggap berkompetensi. Kepada masing-masing validator diberikan lembar soal yang dititikberatkan dalam dua hal yaitu kalimat yang digunakan sudah komunitatif atau belum dan penelitian terhadap kandungan konsep yang diteliti. Soal diberikan skor 2 jika lkalimat sudah komunitatif tetapi belum mengandung konsep yang diteliti atau sebaliknya, soal diberi skor 0 jika kalimat belum komunitatif dan belum mengandung konsep yang diteliti.
Menurut Gabel, 1987 (dalam sihaloho 2001:53) bahwa tes secara keseluruhan dinyatakan valid apabila harga presentase pemberian skor 2 (dua) diatas 75%.
2.Reabilitas
Suatu instrumen dapat dipercaya ubntuk digunakan sebagai alat pengumpul data apabila instrumen tersebut sudah baik, artinya intrumen yang dapat dipercaya adfalah intrumen yang sudah reabel dan menghasilkan data yang dapat dipercaya.
( Arikunto, 1997:170.)

Pemerolehan indeks reabilitas digunakan rumus korelasi produk moment yang kemudian mencari reabilitas untuk keseluruhan item dengan menggunakan rumus
rll = 2 × r1/2.1/2
1 + r1/2.1/2
Keterangan :
rll = Reabilitas
r1/2.1/2 = Angka korelasi belahan pertama dan belahan kedua
(Singarimbun, 1967)


Sebagai tolak ukur interprestasi derajat reabilitas adalah sebagai berikut :
0,80 – 1,00 = Sangat Tinggi
0,60 – 0,80 = Tinggi
0,40 – 0,60 = Sedang
0,20 – 0,40 = Rendah
0,00 – 0,20 = Sangat Rendah
( Arikunto, 1993 : 223)

3.6 Teknik Pengumpulan Data
Data diambil dengan jalan mengadakan tes dan wawancara. Waktu pelaksanaan tes dan wawancara diberitahukan terlebih dahulu oleh guru pengajar kimia agar siswa benar-benar siap. Pengambilan data dilakukan oleh peneliti dibantu oleh guru bidang studi kimia. Dengan demikian data yang terkumpul dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang langsung diperoleh dari subyek penelitian.

7.Prosedur Analisis Data
Data yang terumpul berupa alternatif-alternatif jawaban yang diberikan oleh siswa untuk setiap item tes yang diberikan. Alternatif-alternatif jawaban yang diberikan oleh siswa dinyatakan dengan presentase yang dihitung dengan persamaan berikut :
Pb = Ab/ N × 100%
Dengan :
Pb = presentase siswa yang memberikan jawaban benar untuk setiap item tes.
Ab = Jumlah siswa yang memberikan jawaban benar item tes
N = Jumlah siswa

Tingkat pemahaman siswa diklasifikasikan berdasarkan kriteria yang dikemukakan oleh arikunto (1998:246) yaitu bahwa siswa yang memberikan jawaban benar :

a.P=76 – 100% berarti baik
b.P= 56 – 75% betrarti cukup
c.P= 40 – 55% berarti kurang baik
d.P< 40% berarti tidak baik
Sedangkan data yang diperoleh dari hasil wawancara peneliti analisis kemudian memberikan kesimpulan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa SMA kelas XI IPA Prasetya Gorontalo.

No comments:

Post a Comment