Wednesday, June 9, 2010

EJAAN DALAM BAHASA INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN


1.1Landasan Pemikiran
Ejaan sebenarnya bukan Ejaan Fonologi nmaun karena bersangkut paut dengan bunyi-bunyi Bahasa dan penyalinan kelambang – lambang Visual, oleh karena, hanya untuk menyarankan kepada mereka yang ingin menyusun ejaan Bahas daerah tertentu. Khusus untuk Bab I telah ada Ejaan yang baru. Yang dinamai Ejaan indonesia yang disempurnakan dan mulai berlaku tanggal 17 Agustus 1972. Oleh karena itu para penulis dapat mengikutinya melalui pedoman yang telah disiarkan oleh Pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Repoblik Indonesia (Kini Departemen Pendidikan Nasional Repoblik Indonesia).

1.2Rumusan Masalah
Adapun Rumusan masalah yang akan dibahas adalah dalam makalah ini adalah untuk mengetahui pengertian Ejaan dan Jenis-jenis Ejaan.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Ejaan
Kita sering mendengar perintah guru bahasa eja kata-kata itu. Ini berarti peserta didik disuruh membaca yang biasanya dimulai dengan huruf, suku kata, kata, dan kalimat. Manusia hanya dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa, untuk menyatakan pikiran, keinginan dan perasaan. Manusia mengeluarkan satuan-satuan bunyi dan perasaan. Manusia mengeluarkan satuan-satuan bunyi yang bermakna yang harus dipahami oleh pembicara dan kawan berbicara.
Mula-mula manusia menggunakan gambar-gambar untuk mencatat apa yang dikatakannya. Untuk itu lahir tulisan berkaitan dengan tulisan, BLOOMFIELD
(1933:285) menyebutkan tiga tipe tulisan sebagai hasil akal manusia. Ketiga tipe itu, yakni (i) Ideagraphic;(ii) Logographic;(iii)Phonographic. Tulisan ideographic, ide tentang sesuatu, tulisan logographic tidak langsung menghubungkan lambang dengan kenyataan, sedangkan tulisan phonographic adalah tulisan yang mewakili wujud bunyi-bunyi bahasa yang terdapat dalam bahasa tertentu. Baik tulisan ideagraphic,logographic.maupun phonographic, semuanya mengandung kekurangan. Untuk itu manusia menciptakan tanda-tanda yang dapat menolong ynag disebut tanda diakritik.
Dari penjelasan tadi timbul pertanyaan apakah ejaan itu? Untuk itu ada baiknya lebih dahulu dilihat dari segi leksikologi. Homby dkk.(1961:1233) merumuskan ejaan Spelling: (i) The act or writing or naming the letters of a word in order. (i) The way in which a word is spelled. Rumusan yang dapat dibaca dalam kamus besar bahasa indonesia (Depdikbut 1933:250-251). Terdapat kata mengeja yang bermakna melafalkan huruf-huruf satu demi satu. Sedangkan kata ejaan bermakna kata kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya). Dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serat penggunaan tanda baca.
Bardasarkan rumusan ini yang termasuk dalam ejaan adalah (i) keterangan tentang bagaimana satuan-satuan kebahasan misalnya bentuk dasar, kata berimbuhan, kata ulang, kata majemik, serta unsur lama ditulisakan.(ii) ketetapan tentang bagaimana menuliskan kalimat dan bagian-bagiannya. Dan berhubungan dengan penggunaan tanda-tanda baca, misalnya, (,),titik(.).
Berdasarkan lingkupan seperti itu, dapat dikatakan ejaan adalah aturan penyalinan bahasa lisan kebahsa tulis; atau pelambangan fonem dengan huruf atau penandaannya.
Berdasarkan sistem tulisan orang dapat menyimpan berita tentang kejadian yang dapat digunakan pada waktu-waktu akan datang.


2.2 Mengklasifikasikan Jenis-Jenis Ejaan.
Manurut jenisnya ejaan dapat dibagi atas ejaan Fonotis dan ejaan Ponologis. Eajaan fonetik (ponotics) mempelajari bunyi-bunyi ujaran atau Fona-fona, ejaan fonetis (fonetische spelling). Berusaha menyatakan bunyi bahasa dalam segala nuansanya dengan huruf-huruf setelah mengukur dan mencatatnya dengan alat yang canggih yang disebut sepektagraf. Sepektagraf adalah gambar yang keluar atau yang dapat dilihat berupa frekuensi,intensitas dan durasinya.
Bunyi bahasa yang dihasilkan oleh manusia sangat banyak misalnya fokal /e/ taling B1 berbeda-beda lafalnya untuk orang-orang yang berbeda karena pengaruh konsonan yang mendahulu atau mengikutinya, sebaliknya dalam posisi yang sama pasti tidak secepat benar jika dilafalkan oleh orang yang berbeda. Karena banyak tanda yang diperlukan maka jelas abjat yang ada (latin), tidak cukup. Untuk itu diperlukan tanda berupa garis, titik dua. Ungkaran yang disebut tanda diakritis.
Disamping iotu juga ejaan fonetik terdapat pula ejaan Ponologis (ponologische spelling). Pomnologis adalah subdisiplin lingguistik yang melakukan studi secara ilmiah tentang bunyi-bunyi bahasa yang membedakan, maka ponologi mempelajari bagai manakah bunyi-bunyi bahasa serta kombinasinaya. Apakah bunyi-bunyi tertentu terikat oleh suatu tempat dalam suku kata misalnya Hamzah.
Oleh karena itu ejaan fonologis hanya membatasi bunyi-bunyi yang membedakan makna, maka ejaan ini lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan ejaan fonetis. Jadi bunyi itu tidak mengakibatkan pebedaan makna titak perlu dilambangkan tersendiri. Itu sebabnya ejaan fonologis yang banyak digunakan orang.
Didalam kamus besar bahasa indonesia (Depdikbut 1993:250-251) disebutkan jenis ejaan sebagai berikut.
Ejaan etimologis, yakni ejaan yang menekankan segi Hitorisnya dengan mempertahankan unsur yang tidak direalisasikan secara fonetis.
Ejaan fonemis, yakni ejaan yang menggambarkan tiap fonem ditandai dengan satu lambang secara konsiten. Misalnya ejaan suomi dari ejaan turki.
Ejaan fonetis, yaitu ejaan yang menggambarkan tiap varian fonem atau bunyi ditandai dengan satu lambang misalnya, ejaan melayu sistem wilkinson.
Ejaan melindo, yakni sistem ejaan latin yang termuat dalam penggumuman ejaan bersama ejaan bahasa melayu-indonesia (melindo) tahun 1950 sebagai hasil usaha penyatuan sistem ejaan dengan huruf latin diindonesia dan dipersekutukan ditanah melayu.
Ejaan pembaharuan, yakni sistem ejaan yang dirancang oleh sebuah panitia yang diketahui oleh Penjono dan E.katopo pada tahun 19957 sebagai hasil keputusan kongres bahasa indonesia II dimedan.
Ejaan repoblik atau ejaan Swandi, yakni sistem ejaan latin untuk B1 sesudah prolamasi kemerdekaan yang dimuat dalam surat keputusan mentri pengajaran dan kebudayaan.
Ejaan Van ophuyusen, yakni ejaan latin untuk bahasa melyu di indonesia yang dimuat dalam kitab logat meloooe. Tahun 1901 oleh Eh. A.van ophuyesen. Ejaan latin resmi yang pertama diindonesia.
Ejaan Wilkimson, yakni ejaan resmi yang pertama untuk bhasa melayu disemenajung malaya yang disusun oleh R.J. Wilkinson (1904)
Ejaan yang disempurnakan, yakni jenis ejaan bahasa indonesia yang sebagian besar sama dengan sitem ejaan Malaysia yang termuat dalam surat keputusan presiden RI No. 57 tanggal 16 agustus 1972 dan sekarang menjadi ejaan resmi bahasa indonesia.





BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya ejaan dibagi menjadi dua yakni ejaan Fonetis dan ejaan fonologis.
Fonetik mempelajari bunyi-bunyi ujaran atau fona-fona. Jadi ejaan fonetis adalah ejaan yang menyatakan bunyi-bunyi bahsa dalam hubungannya dengan huruf-huruf yang diajarkan. Sedangkan ejaan fonologi adalah ejaan yang membatasi bunyi-bunyi yang menyebabkan perbedaan makna.

3.2 Saran
Sebagai warga negara indonesia dan sebagai pembelajar bahasa kita hendaknya mengetahui jenis-jenis ejaan agar tidak terjadi kesalah pahaman karena ejaan dalam berbahasa. Dan kita juga sebagai Mahasiswa mampu memahami jenis-jenis ejaan, karena betapa pentingnya ejaan dalam berbahasa indonesia.




DAFTAR PUSTAKA


Pateda, Mansoer. 2003. Pengantar Fonologi. Gorontalo: Penerbit Viladan.

Pateda, Mansoer dan Yennie P. Pulubuhu. 1993. Bahasa Indonesia Sebagai Mata Kuliah Dasar Umum. Surabaya: Penerbit Nusa Indah.

No comments:

Post a Comment