Wednesday, June 9, 2010

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA LISAN MELALUI KEGIATAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DISKUSI PADA SISWA KELAS V DI SDN NO 19 KOTA TENGAH KOTA G

BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Dalam era globalisasi sekarang ini, kesempatan untuk memperoleh pendidikan sangatlah luas. Mengenai hal tersebut pemerintah berusaha semaksimal mungkin untuk menyediakan fasilitas pendidikan. Karena pendidikan mempunyai peran yang amat penting bagi pembangunan suatu bangsa dan negara. Kemajuan suatu bangsa tergantung dari sumber daya manusianya.
Pendidikan dewasa ini semakin dirasakan kemajuannya dalam menunjang pembangunan bagi bangsa indonesia. Hal tersebut sudah menjadi kebutuhan untuk kelangsungan hidup, terutama dalam berbahasa dengan baik.
Bahasa indonesia yang sering digunakan masyarakat pada umumnya yaitu bahasa indonesia lisan yang secara tidak sadar telah tertanam pada diri masing-masing individu, yakni cara berbicara terhadap sesama teman atau lawan berbicara sehingga terjalin kesinambungan dengan apa yang dibicarakan.

Agar terjalin pembicaraan yang baik, maka kemampuan berbahasa lisan yakni berbicara ini masih terus dikembangkan terutama disekolah dasar. Peningkatan kemampuan berbahasa lisan tersebut dimaksud agar anak-anak sekolah dasar mampu memahami pembicaraan orang baik secara langsung maupun lewat media, misalnya radio, televisi, dan pita rekaman. Tujuannya agar anak-anak mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka secara lisan. Dengan demikian kemampuan mereka dalam berkomunikasi secara lisan diharapkan dapat meningkat.
Adapun upaya yang dilakukan pemerintah dalam peningkatan proses belajar berbahasa lisan anak yaitu dengan adanya kurikulum yang menyangkut tentang bahasa lisan baik menyimak atau berbicara. Kurikulum yang dikeluarkan oleh pemerintah tersebut tidak cukup menjamin anak dalam berbicara dengan baik. Oleh karena itu dibutuhkan pembimbing yang tepat.
Biasanya guru lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berbicara dan kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pendapat dan perasaannya baik dalam kegiatan yang bersifat klasikal maupun dalam kegiatan kelompok. Anak akan menjadi vakum dan jenuh belajar yang disebabkan kurang tepatnya penggunaan metode dan tehnik pembelajaraan yang diberikan oleh guru dan mengakibatkan tujuan pembelajaran tidak akan tercapai.
Senada dengan hal tersebut, bahwa guru kelas V SDN No. 19 Kota Tengah Kota Gorontalo dalam meningkatkan kreatifitas siswa pada kegiatan berbicara belum maksimal pada pembelajaraan bahasa lisan. Hal ini terlihat pada peserta didik yang vakum dalam mengemukakan pendapatnya terhadap materi yang diberikan oleh guru. Dari konteks ini bisa dikatakan bahwa kreatifitas berbicara siswa belum terbentuk, sehingga sangat mempengaruhi bahasa lisan siswa. Dari hal ini, bisa diasumsikan bahwa permasalahan yang timbul, selain dari kemampuan siswa juga dari faktor gu ru itu sendiri. Dimana guru belum mampu merelevansikan materi ajar dengan karateristik siswa sebagai pebelajar, khususnya pada mengemukakan pendapat.
Sehubung dengan hal tersebut, maka penulis sangat tertarik untuk mengadakan penelitian sehubung dengan peningkatan siswa melalui kegiatan berbicara dengan di formulasikan dalam Judul Penelitian
“ MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA LISAN MELALUI KEGIATAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DISKUSI PADA SISWA KELAS V DI SDN NO 19 KOTA TENGAH KOTA GORONTALO”.

1.1Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, maka masalah yang muncul dalam penelitian ini adalah “ Apakah peningkatan penelitian berbahasa lisan anak dapat ditingkatkan dengan metode diskusi?”

1.2Cara Pemecahan Masalah
Kurangnya motivasi siswa dalam pelajaran bahasa indonesia khususnya berbicara akan dipecahkan dengan metode diskusi. Tehnik ini yang akan membantu siswa dalam mengembangkan kemampuannya dalam berbicara.
Tahap-tahapnya adalah sebagai berikut:
1.2.1Guru mengemukakan masalah yang akan di diskusikan, apa tujuannya, dan bagaimana garis besar cara pemecahannya.
1.2.2Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan banyaknya masalah.
1.2.3Pada saat siswa berdiskusi, guru berkeliling untuk menjaga ketertiban dan menolong untuk memberikan pengarahan.
1.2.4Tiap kelompok diskusi melaporkan hasil diskusi yang telah dicapainya. Hasil-hasil tersebut kemudian ditanggapi oleh kelompok lain dan akhirnya ditanggapi oleh guru mana yang benar. Para siswa mencatat hasil-hasil diskusi tersebut.

1.3Tujuan Penelitian
Berdasakan masalah yang diuraikan, maka tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan berbahasa lisan siswa melalui kegiatan berbicara dengan menggunakan metode diskusi dalam pembelajaran.

1.4Manfaat
1.4.1Bagi guru, sebagai bahan masukkan agar dalam meningkatkan kreatifitas siswa maka perlu memperhatikan kegiatan pembelajaran yang disajikan.
1.4.2Bagi siswa, setelah penelitian ini dilaksanakan, maka diharapkan kreatifitas berbicara siswa dapat meningkat sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri.
1.4.3Bagi sekolah, hasil penelitian ini akan memberikan nilai tambah pada sekolah itu sendiri untuk memperbaiki strategi pembelajaran bahasa indonesia khususnya berbahasa lisan.
1.4.4Bagi peneliti, penelitiasn ini akan menambah pengalaman dalam penulisan/ penelitian selanjutnya.






BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Teoritis
2.1.1 Hakikat Bahasa Lisan
Apabila kita perhatikan bahasa lisan yang digunakan seseorang dalam berbicara langsung sesama lawan berbicara pada umumnya banyak mengandung kelebihan. Kelebihan itu ialah:
a.Pembicara dan pendengar berhadap-hadapan.
b.Banyak yang dapat disampaikan secara lisan.
c.Di tempat yang gelap dan bagaimanapun, bahasa lisan dapat dimanfaatkan.
d.Waktu, tenaga, biaya dapat dihemat.
e.Penggunaan bahasa lisan tidak mempersyaratkan kepandaian menulis.
f.Pendengar dan meminta kepada pembicara untuk mengulangi atau menjelaskan kembali maksudnya apabila pendengar belum memahaminya.
g.Banyak orang yang dapat ikut.
h.Maksud dan akibat bahasa lisan segera dapat dirasakan.
i.Hanya pembicara dan pendengar yang mengetahui isi pembicaraan.
j.Bahasa lisan sulit dijadikan alat pembuktian dalam perkara.
k.Pembicara dapat menghentikan pembicaraan atau melengkapinya dengan unsur-unsur Suprasegmental kalau diperlukan.
Berdasarkan uraian tersebut hakikat bahasa lisan dapat kita katakan:
a.Bersifat mengganti. c. Kooperatif.
b.Bersifat individual. d. Sebagai alat komunikasi.
2.1.2 Hakikat Berbicara
Dalam proses belajar berbahasa disekolah, anak-anak mengembangkan kemampuan secara vertikal dan tidak secara horizontal. Maksudnya, mereka sudah dapat mengungkapkan pesan secara lengkap meskipun belum sempurna. Makin lama kemampuan tersebut menjadi semakin sempurna dalam arti strukturnya menjadi benar, pilihan katanya semakin tepat dan kalimat-kalimatnya semakin bervariasi. Dengan kata lain perkembangan tersebut tidak secara horizontal mulai dari fonem, kata, fase, kalimat, dan wacana seperti halnya jenis tataran linguistik.
Ellis (lewat Numan, 1991 : 46) mengemukakan adanya tiga cara untuk mengembangkan secara vertikal dalam meningkatkan kemampuan berbicara :
1.Menirukan pembicaraan orang lain (khususnya guru).
2.Mengembangkan bentuk-bentuk ujaran yang telah dikuasai.
3.Mendekatkan atau menyejajarkan dua bentuk ujaran, yaitu bentuk ujaran sendiri yang belum benar dan ujaran orang dewasa (terutama guru) yang sudah benar.
Berikut ini proses pembelajaran berbicra dengan berbagai jenis kegiatan, yaitu percakapan berbicara Estetik, berbicara untuk menyampaikan informasi atau untuk mempengaruhi, dan kegiatan gramatik (Tompkins dan Hos kisson, 1995: 124-147).
1.Berbicara estetik (mendongeng)
Salah satu bentuk berbicara estetik ialah bercerita, guru menyajikan karya sastra kepada murid-muridnya dengan tehnik bercerita, dan murid juga diminta untuk bercerita mengenai karya sastra yang telah dibaca.

Adapun langkah-langkah bercerita adalah sebagai berikut:
Memilih Cerita
Hal yang paling penting dalam memilih cerita adalah memilih cerita yang menarik. Pertimbangan lainnya: (1) Cerita tersebut sederhana, dengan alur cerita yang jelas; (2) cerita tersebut memiliki awal, pertengahan, dan akhir yang jelas; (3) tema cerita jelas; (4) jumlah pelaku cerita tidak banyak; (5) cerita mengandung dialog; (6) cerita menggunakan gaya bahasa perulangan; dan (7) cerita menggunakan bahasa yang menggandung keindahan.
Menyiapakan Diri untuk Bercerita
Murid-murid hendaknya membaca kembali dua atau tiga kali cerita yang akan diceritakan untuk memahami perwatakan pelaku-pelakunya dan dapat menceritakannya secara urut. Kemudian murid-murid memilih frase-frase atau kalimat yang akan diambil untuk membuat ceritanya nanti secara hidup, sehingga lebih menarik perhatian pendengar, termasuk penggunaan yang bervariasi.
Menambah Barang-barang yang Diperlukan
Murid-murid dapat menggunakan beberapa tehnik untuk membuat ceritanya lebih hidup. Tiga barang yang dapat digunakan untuk cerita lebih menarik ialah gambar-gambar yang ditempelkan dipapan planel, boneka, dan benda-benda yang menggambarkan pelaku binatang atau barang-barang yang diceritakan.
Bercerita atau Mendongeng
Murid-murid bercerita sesuai dengan persiapan yang mereka lakukan kepada teman-teman sekelas. Kegiatan bercerita (mendongeng) dapat dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil sehingga penggunaan waktunya dapat efisien.

2.Berbicara untuk Menyampaikan Informasi atau Mempengaruihinya
Langkah-langkah dalam melaporkan informasi secara lisan ialah: memilih topik, mengumpulkan dan menyusun informasi, mengumpulkan benda-benda untuk menvisualkan informasi (diagram, peta, gambar, dll), dan menyajikan laporan. Tema pembelajaran yang ditentukan. Kemudian topik tersebut dikembangkan dengan beberapa hal penting mengenai topik tersebut. Pengembangan topik ini dapat dilakukan dengan menggunakan kata tanya: siapa, apa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana.
Pengumpulan informasi dilakukan dengan membaca berbagai sumber, antara lain buku, majalah, surat kabar, ensiklopedia, almanak dan atlas. Disamping sumber tercetak dapat juga digunakan sumber informasi berupa film, rekaman vidio, atau hasil wawancara.
Penggunaan benda-benda untuk menvisualkan informasi dapat membantu pendengar menangkap informasi tersebut . disamping itu juga, penyajian informasi juga lebih menarik. Bagi penyaji, benda-benda tersebut dapat menolong mempermudah penyajian informasi. Misalnya untuk meninformasikan kondisi gunung Merapi dapat ditunjuk lokasi gunung tersebut pada peta Atlas.
Dalam penyajian informasi, murid-murid seharusnya tidak dengan membaca catatan. Sebelum penyajian dimulai, guru perlu menyampaikan ciri-ciri penyajian yang baik. Misalnay penyaji harus berbicara cukup jelas dan tidak menyimpang dari pokok-pokok pembicaran yang telah disiapkan. Kepada pendengar (murid-murid yang tidak sedang menyajikan informasi) mengajukan pertanyaan dan memberikan penghargaan kepada penyaji misalnya dengan bertepuk tangan.

2.1.3Metode Diskusi
Metode diskusi oleh Drs. Soetomo (1993: 153-154) diartikan sebagai suatu metode pengajaran yang mana guru memberi suatu persoalan (masalah) kepada siswa dan para siswa diberikan kesempatan scara bersama-sama untuk memecahkan masalah itu dengan teman-temanmu. Dalam diskusi siswa dapat tukar-menukar informasi, menerima informasi dan dapat pula mempertahankan pendapatnya dalam rangka pemecahan masalah yang dapat ditinjau dari beberapa segi.
Menurut Drs. Sunaryo (1989: 106) ciri diskusi antara lain:
a.Melibatklan dua orang atau lebih.
b.Berlangsung dalam interaksi tatap muka dan menggunakan media bahasa, semua anggota memperoleh kesempatan mendengar dan mengeluarkan pendapat secara bebas dan langsung.
c.Mempunyai tujuan ataun sasaran yang akan dicapai melalui kerja sama antar anggota.
d.Berlangsung dalam suasana bebas teratur, dan sistematis sesuai dengan aturan main yang telah disepakati bersama.
Tujuan dari metode diskusi untuk merangsang anak agar aktif belajar individual maupun kelompok.
a.Kelebihan metode diskusi.
1.Suasana kelas sangat hidup sebab para sisiwa sepenuhnya mengarahkan perhatian dan pikirannya kepada masalah yang sedang di diskusikan. Partisipasi siswa, baik perorangan maupun seluruh kelas lebih meningkat.
2.Dapat meningkatkan prestasi kepribadian individu siswa seperti semangat toleransi, jiwa demokratis, kritis dalam berpikir, tekun, dan sebagainya.
3.Hasil-hasil diskusi mudah dipahami dan dilaksanakan bersama karena para siswa ikut serta secara aktif dalam pembahasan sampai kepada suatu kesimpulan.
4.Para siswa dilatih mematuhi peraturan-peraturan dan tata terib dalam suatu diskusi sebagai pengalaman berharga bagi kehidupan sesungguhnya kelak dimasyarakat.
b.Kelemahan metode diskusi.
1.Terutama dalam kelompok besar mungkin sekali ada diantara siswa yang tidak aktif ambil bagian sehingga diskusi merupakan kesempatan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab.
2.Biasanya guru sulit menduga arah penyelesaian dan hasil diskusi karena waktu yang digunakan cukup panjang serta beberapa faktor lain yang mempengaruhi lancar tidaknya diskusi.
3.Tidak selamanya mudah bagi para siswa untuk berpikir sistematik dan rapi.
2.1.4Peran motivasi dalam meningkatkan bahasa lisan melalui kegiatan berbicara menggunakan metode diskusi dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
Dalam meninggkatkan bahasa lisan, dalam proses belajar mengajar peranan motivasi baik dari dalam maupun dari luar diri anak sangat diperlukan. Motivasi bagi anak dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekutan dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.
Ada beberapa cara untuk memotivasi siswa dalam pembelajaran berbahasa lisan (berbicara) antara lain:
a.Memberi Angka
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajar. Banyak siswa belajar untuk mencapai angka nilai yang baik. Angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat kuat. Tetapi ada juga siswa yang belajar hanya ingin naik kelas saja. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi yang dimiliki kurang berbobot bila dibandingkan dengan siswa-siswa yang menginginkan angka.
b.Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi. Karena hadiah untuk satu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk satu pekerjaan.
c.Saingan/Kompetensi
Saingan /kopetensi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong minat belajar siswa. Persaingan itu dapat terjadi pada persaingan individu maupun persaingan kelompok, dengan demikian dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
d.Memberi Ulangan
Para siswa akan menjadi lebih giat untuk belajar jika mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu, dalam memberikan ulangan ini juga merupakan sarana motivasi.
e.Mengetahui Hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apabila terjadi kemajuan akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan satu harapan hasilnya terus meningkat.
f.Pujian
Apabila ada siswa yang sukses dan berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan pujian, pujian adalah bentu respon yang positif dan sekaligus merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan menumpuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar sekaligus akan membangkitkan harga diri.
g.Hukuman
Hukuman sebagai respon yang negatif, tetapi jika diberikan secara tepat dan bijaksana maka akan menjadi alat motivasi. Oleh karena itu, guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.
h.Hasrat Untuk Belajar
Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan segala sesuatu kegiatan tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.



i.Minat
Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi pokok. Proses belajar itu akan lancar kalau disertai dengan minat.
j.Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan harus dicapai, karena dirasa sangat berguna dan menguntungkan maka akan timbul gairah untuk terus balajar.
Guru harus sensitif dalam setiap situasi dan dapat memilih pokok bahasan, bahan dan tehnik yang dipergunakan siswa guru dapat memilih dan menunjukkan bahan-bahan yang menarik dan mengaitkan pokok bahasan dalam diskusi yang hidup. Motivasi akan lebih efektif dibangun minat yang ada pada anak. Dalam mengarahkan sasaran belajar, siswa dan guru adakalanya mempunayi tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, guru disarankan sebaiknya memilih sasaran yang mampu dilaksanakan oleh siswa, sehingga siswa dapat mengungkapkan keinginan-keinginan dan melaksanakan sesuai dengan yang dimilikinya dan atas kehendaknya. Kemudian diarahkan sampai akhirnya merusak keberhasilan yang bermanfaat bagi dirinya.

2.2Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian diatas maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut, “Jika metode diskusi digunakan guru maka dapat meningkatkan berbahasa lisan siswa (berbicara), di SDN No. 19 Kota Tengah Kota Gorontalo.

2.3Indikator Kinerja.
Yang menjadi indikator kinerja keberhasilan penelitian ini adalah dari 60% menjadi 80% anak sudah mengalami peningkatan dalam berbicara melalui metode diskusi




















BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Setting Penelitian
3.1.1Penetapan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kelas V SDN No. 19 Kota Tengah Kota Gorontalo, siswa kelas V berjumlah 32 orang yang terdiri atas 17 orang laki-laki dan 15 orang perempuan yang masing-masing memiliki tingkat kemampuan berbeda-beda sebagai subyek penelitian.
3.1.2Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Secara fisik sekolah SDN No. 19 kota Tengah Kota Gorontalo berbentuk huruf U, yakni menghadap kearah selatan dengan kapasitas ruangan seluruhnya berjumlah 11 ruangan, 6 ruangan yang digunakan sebagai ruangan belajar, 1 ruangan kepala sekolah, 1 ruangan staf dewan guru, 1 ruangan perpustakaan, 1 ruangan UKS dan 1 ruangan wakil kepala sekolah.Dengan ukuran luas gedung 448 M2 dan luas halamannya yaitu 552 M2
Bangunan selain ruang kelas antara lain: (a) WC dan (b) kantin sekolah. Halaman sekolah yang tersedia cukup luas dan secara keseluruhan dipergunakan untuk: (a) Apel setiap pagi, (b) Lapangan olah raga, (c) Berbagai tempat bermain dan berkumpul seluruh siswa.
Demi keamanan sekolah dan siswa di SDN No. 19 Kota Tengah, maka dibuatlah pagar permanen dari depan sekolah sampai belakang sekolah dan pintu masuk bagian depan dibuat dari besi.

Tabel 1 Keadaan Guru SND No. 19 Kota Tengah.
No.
NAMA
JENIS KELAMIN
JABATAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Zumramang Noho, Spd.
Asun Ahaya
Herlina T. Ismail
Rosnira, Spd.
Idrak Kaaba
Habiba Adam
Risna Rauf
Jufri U. Naki
Nurhayati Musa
Hawaisa Harah
Berliana
Fitri
Hardoni Biludi
Hadidjah Sabi
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Kepala Sekolah
Guru Kelas VI
Guru Kelas V
Guru Kelas IV
Guru Kelas III
Guru Kelas II
Guru Kelas I
Guru Bidang Studi
Guru Bidang Studi
Guru Bidang Studi
Guru Bidang Studi
Guru Bidang Studi
Guru Bidang Studi
Guru Bidang Studi

Tabel 2. Keadaan siswa SDN No. 19 Kota Tengah.
Kelas
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
I
II
III
IV
VI
VII

22 orang
20 orang
13 orang
17 orang
17 orang
17 orang
24 orang
14 orang
16 orang
16 orang
15 orang
16 orang
46 orang
34 orang
29 orang
33 orang
32 orang
33 orang

Jumlah
207

3.2 Prosedur Penelitian
3.2.1Tahap Persiapan
Dalam rangka penelitian ini, peneliti melakukan persiapan sebagai tahap awal yang kegiatannya sebagai berikut:
a.Menghubungi kepala sekolah guna memperoleh izin dan restu untuk melaksanakan kegiatan penelitian ini. Sekaligus berkonsultasi tentang guru yang akan menjadi mitra kerja.
b.Mendiskusikan rencana kegiatan yang akan dilakukan bersama kepala sekolah dan guru wali kelas.
c.Melakukan observasi awal terhadap subyek penelitian.
d.Pengkajian masalah awal terhadap subyek penelitian dan pembelajaran sesuai dengan tehnik pemecahan masalah yang telah ditetapkan serta menetapkan waktu pelaksanaan tindakan.
3.2.2Tahap Pelaksanaan Tindakan.
Pada tahap ini peneliti melaksanakan kegiatan sesuai dengan tahap berikut:
a.Tahap persiapan tindakan
Kegitan yang dilakukan pada tahap persiapan adalah:
1)Menyusun jadwal pelaksanaan tindakan.
2)Menyiapkan metode dan tehnik yang sesuai.
3)Evaluasi
b.Tahap pelaksanaan tindakan.
1)Siklus I
a) Mengadakan apersepsi.
b)Pengamatan maupun penilaian terhadap kegiatan siswa dalam berbicara.
c)Melaksanakan pembelajaran dengan materi yang ada.
d)Menyusun Instrumen pengamatan.
e)Memantau proses pembelajaran.
f)Memberikan bimbingan.
g)Melaksanakan tes akhir.
h)Melaksanakan analisis dan refleksi.
2)Jika pada pelaksanaan siklus I belum berhasil, maka sebagai alternatif untuk menyempurnakan kesalahan yang terjadi pada siklus I adalah melalui pelaksanaan pada siklus II. Adapun kegiatan yang dilakukan pada siklus II adalah:
a)Merumuskan tindakan baru, seperti halnya pada siklus I.
b)Melaksanakan proses belajar mengajar.
c)Memberikan bimbingan terhadap siswa yang aktif maupun tidak aktif dalam menerima materi pelajaran yang disajikan (dalam kegiatan diskusi).
d)Melaksanakan tes akhir.
e)Melaksanakan analisis dan refleksi.
3.2.3Obsevasi dan Interpretasi
Kegiatan observasi merupakan upaya untuk merekam semua peristiwa dan kegiatan selama tindakan berlangsung, terutama menyangkut kreativitas siswa dalam pembelajaran berlangsung.
Bersamaan dengan pelaksanaan observasi, dilakukan interpretasi yakni memberikan kesan, pandapat, atau pandangan serta penapsiran terhadap proses belajar mengajar sesuai dengan hasil observasi.
3.2.4Tahap Pemantauan dan Evaluasi
Pemantauan dan evaluasi berlangsung dalam setip siklus yang dilaksanakan dan hasilnya dibahas pada tahap analisis dan refleksi.
Adapun yang menjadi pedoman dalam melaksanakan pemantauan dan evaluasi adalah sebagai berikut:
a)Semua aspek yang menjadi indikator dari keratifitas berbicara (mengelurkan pendapat) siswa.
b)Alat pengumpulan data yang disiapkan berupa lembar observasi tentang kegiatan pembelajaran.
c)Bukti fisik berupa lembaran “Observasi”.
3.2.5Tahap Analisis dan Refleksi
Pada tahap ini semua data yang diperoleh dari hasil penelitian dan hasil evaluasi digunakan untuk merefleksikan diri dari seluruh proses kegiatan.
Refleksi yang digunakan adalah untuk mengetahui keberhasilan yang terjadi pada saat proses pembelajaran berlangsung. Hasil analisis dan refleksi dijadikan bahan acuan untuk merencanakan ulang tindakan pembelajaran kembali.
Proses pengolahan data yang diperoleh melalui lembar observasi tentang penilaian siswa dari pengamatan masing-masing dijumlah aspek dan kriterianya, kemudian dipresentasikan dengan rata-rata.

No comments:

Post a Comment