Tuesday, June 15, 2010

Pemisahan dan penentuan kadar asam lemak dari sabun dengan menggunakan ektraksi pelarut

Judul : Pemisahan dan penentuan kadar asam lemak dari sabun dengan
menggunakan ektraksi pelarut

Maksud : agar mahasiswa dapat memahami cara penggunaan dan prinsip kerja
ekstraksi

Prinsip Corong Pisah :
Merupakan metode pemisahan campuran senyawa terlarut dalam dua jenis pelarut yang tidak saling bercampur, karena adanya perbedaan koefisien distribusi senyawa terlarut didalam masing-masing pelarutan tersebut sehingga terjadi pemisahan

Dasar Teori
Asam lemak, bersama-sama dengan gliserol, merupakan penyusun utama minyak nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup. Asam ini mudah dijumpai dalam minyak masak (goreng), margarin, atau lemak hewan dan menentukan nilai gizinya. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas (karena lemak yang terhidrolisis) maupun terikat sebagai gliserida.
Karakteristik
Perbandingan model asam stearat (C18:0, atas), asam oleat (C18:1, tengah), dan asam α-linolenat (C18:3, bawah). Posisi cis pada ikatan rangkap dua mengakibatkan melengkungnya rantai dan mengubah perilaku fisik dan kimiawi ketiga asam lemak ini. Pelengkungan tidak terjadi secara nyata pada ikatan rangkap dengan posisi trans.
Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6). Karena berguna dalam mengenal ciri-cirinya, asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh hanya memiliki ikatan tunggal di antara atom-atom karbon penyusunnya, sementara asam lemak tak jenuh memiliki paling sedikit satu ikatan ganda di antara atom-atom karbon penyusunnya.
Asam lemak merupakan asam lemah, dan dalam air terdisosiasi sebagian. Umumnya berfase cair atau padat pada suhu ruang (27° Celsius). Semakin panjang rantai C penyusunnya, semakin mudah membeku dan juga semakin sukar larut.
Asam lemak jenuh bersifat lebih stabil (tidak mudah bereaksi) daripada asam lemak tak jenuh. Ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh mudah bereaksi dengan oksigen (mudah teroksidasi). Karena itu, dikenal istilah bilangan oksidasi bagi asam lemak.
Keberadaan ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh menjadikannya memiliki dua bentuk: cis dan trans. Semua asam lemak nabati alami hanya memiliki bentuk cis (dilambangkan dengan "Z", singkatan dari bahasa Jerman zusammen). Asam lemak bentuk trans (trans fatty acid, dilambangkan dengan "E", singkatan dari bahasa Jerman entgegen) hanya diproduksi oleh sisa metabolisme hewan atau dibuat secara sintetis. Akibat polarisasi atom H, asam lemak cis memiliki rantai yang melengkung. Asam lemak trans karena atom H-nya berseberangan tidak mengalami efek polarisasi yang kuat dan rantainya tetap relatif lurus.
Ketengikan (Ingg. rancidity) terjadi karena asam lemak pada suhu ruang dirombak akibat hidrolisis atau oksidasi menjadi hidrokarbon, alkanal, atau keton, serta sedikit epoksi dan alkohol (alkanol). Bau yang kurang sedap muncul akibat campuran dari berbagai produk ini

Biosintesis asam lemak
Pada daun hijau tumbuhan, asam lemak diproduksi di kloroplas. Pada bagian lain tumbuhan dan pada sel hewan (dan manusia), asam lemak dibuat di sitosol. Proses esterifikasi (pengikatan menjadi lipida) umumnya terjadi pada sitoplasma, dan minyak (atau lemak) disimpan pada oleosom. Banyak spesies tanaman menyimpan lemak pada bijinya (biasanya pada bagian kotiledon) yang ditransfer dari daun dan organ berkloroplas lain. Beberapa tanaman penghasil lemak terpenting adalah kedelai, kapas, kacang tanah, jarak, raps/kanola, kelapa, kelapa sawit, jagung dan zaitun.
Proses biokimia sintesis asam lemak pada hewan dan tumbuhan relatif sama. Berbeda dengan tumbuhan, yang mampu membuat sendiri kebutuhan asam lemaknya, hewan kadang kala tidak mampu memproduksi atau mencukupi kebutuhan asam lemak tertentu. Asam lemak yang harus dipasok dari luar ini dikenal sebagai asam lemak esensial karena tidak memiliki enzim untuk menghasilkannya.
Biosintesis asam lemak alami merupakan cabang dari daur Calvin, yang memproduksi glukosa dan asetil-KoA. Proses berikut ini terjadi pada daun hijau tumbuh-tumbuhan dan memiliki sejumlah variasi.
Kompleks-enzim asilsintase III (KAS-III) memadukan malonil-ACP (3C) dan asetil-KoA (2C) menjadi butiril-ACP (4C) melalui empat tahap (kondensasi, reduksi, dehidrasi, reduksi) yang masing-masing memiliki enzim tersendiri.
Pemanjangan selanjutnya dilakukan secara bertahap, 2C setiap tahapnya, menggunakan malonil-KoA, oleh KAS-I atau KAS-IV. KAS-I melakukan pemanjangan hingga 16C, sementara KAS-IV hanya mencapai 10C. Mulai dari 8C, di setiap tahap pemanjangan gugus ACP dapat dilepas oleh enzim tioesterase untuk menghasilkan asam lemak jenuh bebas dan ACP. Asam lemak bebas ini kemudian dikeluarkan dari kloroplas untuk diproses lebih lanjut di sitoplasma, yang dapat berupa pembentukan ikatan ganda atau esterifikasi dengan gliserol menjadi trigliserida (minyak atau lemak).
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Hasil Pengamatan
0,5 gram sabun yang telah dipotong-potong ditambahkan 400 ml air suling terbentuk larutan sabun
Larutan sabun ditambahkan 1-3 tetes indkator pp larutan menjadi merah muda
Larutan dipanaskan hingga hampir memndidih
Didinginkan
Dinecerkan hingga 500 ml air dalam labu takar
Diambil 20 ml dan dimasukan dalam corong pisah + 10 ml dietil eter kemudian dikocok dan terbentuk emulsi sehingga ditambahkan 10 ml larutan NaCl jenuh, dikocok dan dibiarkan beberapa menit sehingga terbentuk dua lapisan. Lapisan atas merupakan dan lapisan bawah merupakan lapisan dietil eter
Lapisan dietil eter + 10 ml air dan 2 tetes indikator pp kemudian di kocok sehingga terbentuk dua lapisan yaitu lapisan dietil eter dan lapisan bawah merupakan. Dan lapisan air ini dikeluarkan sehingga yang tersisa hanya dietil eter
Lapisan dietil eter + 20 ml metanol lalu dikocok dan dibiarkan beberapa menit sehingga terbentuk dua lapisan. Lapisan bawah dipisahkan dari lapisan atas. Lapisan metanol dimasukan dalam erlenmeyer 150 ml dan 2 tetes indikator pp lalu dititrasi dengan NaOH 0,01 N volume NaOH yang dipakai pada saat penitrasi adalah 0,5 ml.



Pembahasan

Partisi zat terlarut dalam dua pelarut yang tidak bercampur ditentukan oleh hukum distribusi. Jika solut A terdistribusi dalam suatu fase dan organik, maka kesetimbangan yang dihasilkan dapat ditulis sebagai :
Aaq Aor
Dimana aq dan or merupakan fase cair dan fase organik.

0,5 gram sabun yang telah dipotong-potong ditambahkan 400 ml air suling terbentuk larutan sabun. Larutan sabun ditambahkan 1-3 tetes indkator pp larutan menjadi merah muda. Perubahan warna diakibatkan dari penambahan indikator pada larutan sabun. Larutan dipanaskan hingga hampir memndidih. Didinginkan. Diencerkan hingga 500 ml air dalam labu takar. Diambil 20 ml dan dimasukan dalam corong pisah + 10 ml dietil eter kemudian dikocok dan terbentuk emulsi. Emulsi terjadi sebagai akibat dari pencampuran zat cair dengan zat cair dan untuk menghilangkan emulsi tersebut sehingga ditambahkan 10 ml larutan NaCl jenuh yang akan mengikat emulsi, dikocok dan dibiarkan beberapa menit sehingga terbentuk dua lapisan. Lapisan atas merupakan residu atau sisa larutan sabun dan lapisan bawah merupakan lapisan dietil eter dimana larutan di etil eter mempunyai massa jenis yang lebih besar bila dibandingkan dengan larutan sabun sehingga dietil eter berada dibawah. Lapisan dietil eter + 10 ml air dan 2 tetes indikator pp kemudian di kocok sehingga terbentuk dua lapisan yaitu lapisan dietil eter dan lapisan bawah merupakan air. Dan lapisan air ini dikeluarkan sehingga yang tersisa hanya dietil eter. Lapisan dietil eter + 20 ml metanol lalu dikocok dan dibiarkan beberapa menit sehingga terbentuk dua lapisan. Lapisan bawah dipisahkan dari lapisan atas. Lapisan metanol dimasukan dalam erlenmeyer 150 ml dan 2 tetes indikator pp lalu dititrasi dengan NaOH 0,01 N volume NaOH yang dipakai pada saat penitrasi adalah 0,5 ml.



Kesimpulan

Metode pemisahan campuran senyawa terlarut dalam dua jenis pelarut yang tidak saling bercampur, karena adanya perbedaan koefisien distribusi senyawa terlarut didalam masing-masing pelarutan tersebut sehingga terjadi pemisahan. Dalam hal ini yang dipisahkan berawal dari larutan sabun kemudian dengan penambahn indikator pp dan larutan yang lain sehingga perlakuan terakhir memisahkan metanol dari larutan dietil eter.



Daftar Pustaka

Team teaching prak. DDPA.2008. modul praktikum.gorontalo: ung
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

No comments:

Post a Comment