Thursday, July 15, 2010

Analisis Kualitatif Kromatografi

Ada 3 pendekatan untuk analisis kualitatif yakni:
1.Perbandingan antara data retensi solutyang tidakdiketahui dengan data retensi baku yang sesuai (senyawa yang diketahui) pada kondisi yang sama.
Untuk kromatografi planar (kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis), faktor retardasi (nilai R^ senyawa baku dan R^ senyawa yang tidak diketahui dibandingkan dengan cara dilakukan kroma­tografi secara bersama-sama untuk menghilangkan adanya variasi kondisi bahan yang digunakan dan variasi laboratorium.
Untuk kromatografi yang menggunakan kolom (seperti KCKT dan KG), waktu retensi (tp) atau volume retensi (V^) senyawa baku dan tp atau Vp senyawa yang tidak diketahui dibandingkan dengan cara kromatografi secara berurutan dalam kondisi alat yang stabil dengan perbedaan waktu pengoperasian antar keduanya sekecil mungkin.

2.Dengan cara spiking.
Untuk kromatografi yang melibatkan kolom, spiking dilakukan dengan menambah sampel yang mengandung senyawa tertentu yang akan diselidiki dengan senyawa baku pada kondisi kromato­grafi yang sama. Hal ini dilakukan dengan cara: pertama, dilakukan proses kromatografi sampel yang tidak d\-spiking. Kedua, sampel yang telah d\-spiking dengan senyawa baku dilakukan proses kro­matografi. Jika pada puncak tertentu yang diduga mengandung senyawa yang diselidiki terjadi peningkatan tinggi puncak/luas puncak setelah d\-spiking dibandingkan dengan tinggi puncak/luas puncak yang tidak dilakukan spiking, maka dapat diidentifikasi bah-wa sampel mengandung senyawa yang kita selidiki.
3.Menggabungkan alat kromatografi dengan spektrometer massa.
Pada pemisahan dengan menggunakan kolom kromatografi gas dan dihubungkan dengan detektor spektrometer massa, maka akan diperoleh informasi data spektra massa solut dengan waktu retensi tertentu. Spektra solut yang tidak diketahui dapat dibandingkan dengan spektra yang ada di database komputer atau diinterpretasi sendiri. Cara ini dapat dilakukan untuk solut yang belum ada baku murninya.
Identifikasi dengan hanya menggunakan data retensi pada satu kondisi kromatografi tidak selalu menghasilkan data yang reliabel. Oleh karena itu, perbandingan data dengan menggunakan kondisi kromato­grafi yang berbeda (seperti fase diam atau fase gerak yang digunakan berbeda) akan mengurangi kemungkinan identifikasi yang tidak be-nar.

Sumber :
Rohman, Abdul. 2009. Kromatigrafi Untuk Analisis Obat. Yogyakarta: Graha Ilmu.

No comments:

Post a Comment