Thursday, August 19, 2010

Pengertian koloid


Thomas Graham banyak mempelajari tentang kecepatan difusi (gerak) partikel materi sehingga ia dapat merumuskan hukum tentang difusi. Dari pengamatannya, ternyata gerakan partikel zat dalam larutan ada yang cepat dan lambat. Umumnya yang berdifusi cepat adalah zat berupa kristal sehingga disebut kristaloid, contohnya NaCl dalam air. Akan tetapi istilah ini tidak populer karena ada zat yang bukan kristal berdifusi cepat, contohnya HCI dan H2S04. Yang lambat berdifusi disebabkan oleh partikelnya mempunyai daya tarik (perekat) satu sama lain, contohnya putih telur dalam air. Zat seperti ini disebut koloid (bahasa Yunani; cola = perekat).
Telah dinyatakan pada pasal 7.5, bahwa kecepatan difusi menurut Graham bergantung pada massa partikel, makin besar massa makin kecil kecepatannya. Massa ada hubungannya dengan ukuran partikei, yang massanya besar akan besar pula ukuran partikelnya. Berdasarkan ukuran pertikel, campuran dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu larutan sejati, koloid, dan suspensi kasar. Sebenarnya cukup sulit membedakan ketiga jenis campuran itu,, kecuali dilihat dari ukuran (jari-jari) partikelnya.
Ada dua cara terbentuknya partikel koloid. Pertama, dari senyawa bermolekul besar, yaitu satu molekul menjadi satu partikel koloid, contohnya protein dan plastik. Kedua, satu partikel koloid terbentuk dari gabungan (agregat) banyak partikel kecil. Partikel yang bergabung itu mungkin dalam bentuk molekul, ion, atau atom. Contoh agregat molekul adalah koloid belerang dan AS2S3 dalam air. Contoh agregat atom adalah koloid emas dalam air (sol emas), yaitu gabungan atom-atom emas menjadi kristal kecil melalui ikatan logam. Sol emas di kenal ada tiga macam, yaitu yang berwarna merah, biru, dan lembayung. Partikel yang merah lebih kecil dari pada yang biru, dan yang biru lebih kecil daripada yang lembayung. Contoh agregat atom yang lain adalah sol platina dan perak, yang mirip dengan sol emas. Contoh agregat ion adalah koloid Fe(OH)3 berupa kristal ion berukuran koloid. Contoh koloid ion yang lain adalah koloid Al(OH)3 dan AgCl.
Dari segi bentuknya, partikel koloid dapat berupa lembaran (laminar), serat (febrilar), dan butiran (korpuskular), seperti dilukiskan pada gambar 10.1. Bentuk itu ditentukan oleh jenis dan cara terbentuknya koloid. Koloid yang terbentuk dengan cara rekristalisasi mempunyai bentuk sesuai dengan struktur kristalnya, tetapi bila dibuat dengan memecah atau menggerus partikel besar akan berbentuk acak atau beraneka ragam.

Sumber :
S, Syukri, 1999. Kimia Dasar 2.Bandung: ITB

No comments:

Post a Comment